Kamis, 16 Juni 2022

Review Film 'Fantastic Beasts : The Secrets of Dumbledore'

Fantastic Beasts Secrets of Dumbledore, Tonton Dumbledore's Army Pertama di  Video Ini

Kemarin (bulan April) habis lihat film ini bareng teman. Ekspetasi awal ketika nonton film sudah disetting agar nggak terlalu tinggi. Karena sebelum memutuskan untuk nonton sempat baca review dari beberapa orang lain yang sudah nonton. Kebanyakan bilang penyelesaian konflik anti klimaks, unsur ‘fantastic beasts’nya kurang menonjol, Newt yang menjadi tokoh utama dalam film ini mendapat porsi sedikit, serta rumor kalau film ini mengangkat sisi guy yang dimiliki Albus Dumbledore. Otomatis saya berpikir ulang untuk menonton film ini, antara iya atau tidak.

Saya iseng buka IMDB untuk lihat skor film ini, mungkin pendapat kebanyakan orang tersebut sedikit salah. Ternyata nilainya 6,6 dari 10, justru lebih rendah dari film pertamanya tahun 2016. Tapi yang mengherankan kalau memang film ini menceritakan sisi guy Dumbledore, kenapa batas usia yang dilabeli di poster atau bioskop justru ‘SU’ yang artinya dapat ditonton semua umur. Daripada penasaran, saya dan teman saya memutuskan untuk tetap nonton. Sekaligus mengobati rasa rindu akan Hogwarts sejak Desember 2018, sudah hampir 3 tahun lebih jarak dari film yang kedua.

Sebelum nonton film yang ketiga ini, saya memutuskan menonton lagi film yang kedua, ‘Fantastic Beasts : The Crimes of Grindelwald’. Biar lebih nyambung dan mencari jawaban dari pernyataan di ending film kedua bahwa Credence merupakan keluarga Dumbledore. Saya jadi berpikir tentang Credence / Aurelion Dumbledore (Grindelwald memberi tahu nama asli Credence), dia ini siapanya Albus Dumbledore? secara nih ya, Albus punya saudara saja baru ketahuan saat nonton film terakhir Harry Potter (karena saya baca novelnya setelah lihat filmnya, itu pun belum selesai baca, hehe).

Setelah nonton, ternyata filmnya nggak seburuk itu tapi dibandingkan dengan film yang pertama memang terasa kurang ‘fantastic beasts’nya. Setelah ini saya akan merangkum beberapa adegan di dalam film ini yang membuat saya masih bisa menontonnya hingga akhir. Jadi untuk kalian (yang mungkin menemukan tulisan ini) yang tidak mau terkena spoiler sebelum nonton, tolong segera tutup halaman tulisan ini. Tapi kalau tetap ingin membaca, saya persilahkan.

 

#fantastic beasts the secrets of dumbledore from fantastic beasts daily 

Setiap adegan yang ada Jacob Kowalski adalah mood booster dalam film ini. Sebagai satu-satunya no-maj /muggle yang ditugaskan dalam misi melawan Grindelwald, perannya di film ini adalah membuat penonton tertawa. Adegan dimana dia berbincang dengan tiga siswa di aula Hogwarts dan menyombongkan tongkatnya yang merupakan tongkat palsu. Cerita ke Newt tentang siswa Slytherin yang baik karena ngasih dia permen (atau kue ya?), tapi Newt malah balik tanya rasa apa yang didapat karena terakhir kali Newt beruntung mendapat rasa yang nggak enak tapi masih bisa dimakan. Dia bilang ada rasa yang paling nggak enak dan semoga Jacob tak mendapatkannya. Otomatis Jacob langsung berbalik menatap ke arah anak-anak Slytherin dengan wajah yang sinis, sedangkan yang ditatap justru tertawa. Adegan menuju ending saat bawa koper, sebelum dia ketemu Queenie, dikejar-kejar sama anak buahnya Grindelwald itu seru & kocak sih. Tapi kasihan juga saat dia kena sihir kutukan Crucio oleh Grindelwald, beruntung kutukannya tidak berlangsung lama. Nonton adegan itu jadi keinget Nevile Longbottom yang cerita orang tuanya terkena kutukan tersebut sebelum akhirnya dibunuh oleh Bellatrix. Nonton Jacob di film ini itu mengingatkan saya pada Ron di film Harry Potter yang ke-2, The Chamber of Secret. Kadang pemberani, kadang takut, kadang konyol.

 

#fantastic beasts and where to find them from Dear Heart, It’s Me 

Ketika Newt berusaha menyelamatkan kakaknya, Theseus Scamander yang dipenjara di Erkstag. Bentuk penjaranya seperti goa atau tebing dengan lubang besar yang dalam ditengahnya. Di lubang itu ada hewan yang menjaga, namanya Manticore. Manticore ini bentuknya seperti perpaduan antara kepiting dan lobster dengan ukuran yang super besar. Dia akan naik memakan tahanan yang lampunya padam, dan melempar sisa makanan tersebut ke (anak-anaknya) Manticore yang lebih kecil dan banyak. Beberapa Manticore kecil inilah yang ditiru Newt dari cara berjalan, gerakan tangan & kaki hingga goyangan pinggul seperti kepiting agar dapat berjalan menuju tempat kakaknya ditahan, kemudian membebaskannya. Theseus beberapa kali dimarahi Newt karena goyangan pinggulnya tidak sama persis seperti dirinya. Bahkan Theseus beberapa kali bertanya kepada Newt, ‘apakah ini cara yang benar untuk keluar dari sini?’, Newt menjawab, ‘tentu saja buktinya aku masih hidup dan berusaha menyelamatkanmu’. Sepanjang adegan dua kakak beradik ini meniru Manticore untuk keluar dari penjara,  terdengar suara tertawa hampir dari satu studio bioskop. Suara tertawa itu berhenti ketika adegan lampu yang dibawa mereka berdua padam dan Manticore yang super besar muncul dari lubang untuk menerkam mereka.

 

#fb from 𝖌𝖊𝖔𝖗𝖌𝖎𝖆;

Pemandangan Hogwarts yang sangat dirindukan. Aula makan, lapangan Quidditch, jembatan, danau, bahkan menaranya. Nonton adegan itu pasti langsung nyambung dengan beberapa adegan yang ada di film Harry Potter. Otomatis keinget gitu kalau lihat tempat-tempat itu, misal kalau lihat lapangan Quidditch, pasti langsung keinget adegan pertandingan Quidditch antar asrama. Ditambah muncul guru Hogwarts selain Dumbledore yaitu Minerva McGonagall. Kaget tiba-tiba ada wanita cantik datang ke rumah Dumbledore memberi kabar (sepertinya) tentang Grindelwald yang mengajukan diri menjadi perdana menteri sihir setelah dinyatakan bebas. Awalnya nggak langsung tahu kalau itu Prof. McGonagall karena Dumbledore manggilnya Minerva. Masa mudanya Prof. McGonagall tenyata secantik itu.

Sepertinya itu sudah semua alasan kenapa saya masih betah duduk di bioskop selama 2 jam 23 menit. Selanjutnya saya akan membahas yang kurang disukai dari film ini. 

 

https://c.tenor.com/9mZv3l_H-5sAAAAC/fighting-credence-barebone.gif 

Penyelesaian jati diri Credence sebagai bagian dari keluarga Dumbledore terasa datar saja gitu. Padahal itu kan yang saya tunggu-tunggu hampir 3 tahun lebih akibat ending film kedua. Nggak suka juga penampilan rambut panjang Credence di film ini. Setidaknya hal tersebut bisa termaafkan sedikit dengan adegan pertarungan Credence vs Albus Dumbledore yang efek CG dan visualisasinya terbaik sepanjang film ini. Ditambah adegan dimana Albus jalan sendirian dia akhir film ‘feel’’nya sampai ke saya.

 

#newt scamander from grindeldore army 

Unsur ‘fantastic beast’nya kurang jika dibandingkan dengan dua film sebelumnya. Tetap ada tapi kurang ramai. Mungkin fokus ke judulnya juga kali ya, yang dibahas nggak jauh-jauh dari judul. Malah lebih terkesan unsur politik, kan adegan pemilu juga. Saya pikir-pikir lagi wajar sih, secara pemerannya lebih dewasa bukan remaja seperti Harry Potter. 

 

https://images.ctfassets.net/usf1vwtuqyxm/5XTyKVIOcOukxyvu3pwBRI/a6b75f80ad68822f0d761f84c41c78b7/FB-F3-the-secrets-of-dumbledore-bunty-room-of-requirement-decoy-cases-web-landscape?w=914&q=70&fm=webp

Jumlah koper tiruan Newt yang membuat bingung. Perasaan asisten Newt, Bunty bilang ke pembuat koper buat bikin setengah lusin (half of dozen), berarti kan 6 ya harusnya? atau 6 termasuk yang asli? Sedangkan sebelum berangkat ke pemilu itu kan masing-masing bawa 1, total ada 5 orang. Newt, Theseus, Lally, Jacob & Bunty. Albus & adiknya seingat saya nggak bawa koper kok. Ini nggak penting sih, tapi bikin saya penasaran.

Mungkin segitu saja pendapat saya setelah menonton film ini, semoga nggak terlalu panjang untuk dibaca, sampai ketemu di tulisan-tulisan yang lain (yang nggak tahu kapan ada lagi), terimakasih sudah membaca.